Home » Posts tagged 'Produksi Bersih'

Tag Archives: Produksi Bersih

Biogas dari Limbah Industri Tahu oleh BPPT

Mitigasi Gas Rumah Kaca dan Produksi Bersih

1.      Kebijakan Nasional Dalam Rangka Perubahan Iklim

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 5 pulau utama dan 30 kelompok kepulauan yang lebih kecil; mencakup 17.500 pulau, yang terletak antara 06°08’ Lintang Utara – 11°15’ Lintang Selatan, dan 94°45’ – 141°05’ Bujur Timur. Luas Indonesia terdiri atas 3,1 juta km2 wilayah perairan (62% dari total luas) dan sekitar 2 juta km2 wilayah daratan (38% dari total luas), dengan panjang garis pantai 81.000 km. Jika Zona Ekonomi Eksklusif seluas 2,7 juta km2 dimasukkan, area yurisdiksi total Indonesia menjadi 7,8 juta km2. Indonesia memiliki karakteristik geografis dan geologis yang sangat rentan terhadap perubahan iklim, yakni sebagai negara kepulauan daerah pantai yang luas dan besarnya populasi penduduk yang tinggal di daerah pesisir, memiliki hutan yang luas namun sekaligus menghadapi encaman kerusakan hutan, rentan terhadap bencana alam (gempa vulkanik dan tektonik, tsunami, dll) dan kejadian cuaca ekstrim (kemarau panjang, banjir), memiliki tingkat polusi yang tinggi di daerah urban, memiliki ekosistem yang rapuh (fragile) seperti area pegunungan dan lahan gambut, serta kegiatan ekonomi yang masih sangat tergantung pada bahan bakar fosil dan produk hutan.

Dampak perubahan iklim yang sangat besar terhadap berbagai sektor, mendorong untuk dilakukan berbagai upaya sebagai langkah adaptasi dan mitigasi terhadap dampak perubahan iklim tersebut .  Indonesia tentu saja harus lebih waspada karena merupakan negara kepulauan yang terletak di daerah tropis, yang merupakan salah satu negara yang paling rentan terhadap ancaman dan dampak dari perubahan iklim.

Untuk menghadapi perubahan iklim, perlu usaha dan pemikiran yang sangat serius, karena perubahan iklim merupakan masalah yang sangat komplek, melibatkan berbagai parameter, dan berdampak pada berbagai aspek. Iklim erat kaitannya dengan kehidupan manusia, sebagai bagian tak terpisahkan, memegang peranan penting dalam pengelolaan ekonomi pembangunan, menjadi salah satu faktor penting dalam aspek kemakmuran ketahanan nasional, karena peningkatan kebutuhan manusia akan meningkatkan aktivitas industri, pembukaan hutan, usaha pertanian dan rumah tangga yang melepaskan Gas Rumah Kaca (GRK), dimana suatu perubahan kecil dari kondisi rata-rata yang meningkatkan GRK dapat menyebabkan suatu perubahan yang besar dalam frekuensi kejadian ekstrim.

 

2.      Tujuan dan Strategi Pembangunan Nasional Menghadapi Perubahan Iklim

Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Dengan kondisi sebagai negara berkembang, kemampuan Indonesia dalam melakukan adaptasi terhadap perubahan iklim belumlah sebaik negara-negara maju. Oleh karena itu dikhawatirkan bahwa pembangunan yang sedang dilaksanakan pemerintah bisa terhambat karena dampak perubahan iklim. Golongan yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim adalah masyarakat miskin yang juga merupakan golongan yang paling terkena dampak terhambatnya pembangunan nasional. Dengan demikian, respon terhadap perubahan iklim harus mengikutsertakan program pengentasan kemiskinan. Strategi tiga jalur (triple track strategy), yakni pro-poor, pro-job, dan pro-growth harus menjadi bagian integral dalam strategi nasional menghadapi perubahan iklim. Strategi nasional menghadapi perubahan iklim juga perlu diarahkan pada pengembangan rekayasa sosial agar masyarakat dapat mengalami perubahan sosial terencana, sistematis dan menyeluruh yang dapat memberikan manfaat bagi kelangsungan kehidupan sosial dan ekologi.

3.      Rencana Aksi Nasional Mitigasi dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim

Sebagai respon terhadap perubahan iklim yang sedang dan diperkirakan akan terus terjadi, Rencana Aksi Nasional terfokus pada usaha mitigasi dan adaptasi. Mitigasi pada dasarnya merupakan usaha penanggulangan untuk mencegah terjadinya perubahan iklim yang semakin buruk, sedangkan adaptasi merupakan upaya penyesuaian pola hidup dan sarananya terhadap perubahan iklim. Secara umum, untuk menunjang pelaksanaan kegiatan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, maka diperlukan penegakan hukum yang tegas, tata kepemerintahan yang baik (Good Governance), persiapan dan rekayasa sosial, serta sosialisasi dan pendidikan yang intensif.

- Aksi Mitigasi :

  1. Kehutanan antara lain ;  penurunan emisi dan peningkatan kapasitas penyerapan karbon, pengembangan mekanisme insentif REDD dan Kontinuitas Program MIH yang terintegrasi dengan GERHAN, penataan ruang, pengentasan kemiskinan masyarakat sekitar kawasan hutan,  penanggulangan kebakaran hutan, penanggulangan illegal loging
  2. Kelautan antara lain ; peningkatan penyerapan karbon, penanaman mangrove dan vegetasi pantai, rehabilitasi,terumbu karang,  perluasan wilayah konservasi laut.
  3. Energi antara lain ; pembangkit energi , inventarisasi GRK dan penurunannya, substitusi energi yang rendah karbon, sumber EBT ( biomas, panas bumi, surya, angin, air)
  4. Transportasi antara lain, inventarisasi GRK dan penurunannya, penggunaan sumber EBT.
  5. Industri antara lain ;  inventarisasi GRK dan penurunannya, penerapan teknologi bersih dan prinsip 5R, penggunaan sumber EBT, peningkatan proyek CDM, industri baru wajib dalam kawasan industri, sistem manager pengendalian dan pencegahan pencemaran (EIP)
  6. Rumah Tangga dan Komersial antara lain ;  inventarisasi GRK dan penurunannya, pengelolaan sampah yang terintegrasi mulai dari penghasil hingga TPA, Penerapan teknologi waste to energy, mendorong penerapan prinsip 3R.
  7. Lain-lain ; kampanye Hemat energi, revisi Perores 67 tahun 2005 untuk pelaksanaan CDM, lampu hemat energi untuk jalan dll

- Aksi Adaptasi

  1. Sumberdaya air antara lain ; hemat air, inventarisasi lahan gambut, pemulihan DAS, memperbaiki jaringan hidrologi, inventarisasi tempat pengambilan air baku, pembangunan situ, embung, waduk.
  2. Pertanian antara lain ;  membuat peta wilayah kekeringan, rehabilitasi irigasi, pengendalian bencana banjir dan kekeringan,  sosialisasi untuk membangun pemahaman yang benar terhadap perubahan iklim dan dampaknya pada sector pertanian
  3. Kelautan antara lain  pesisir dan Perikanan antara lain ; melakukan penanaman mangrove atau tanaman pantai lainnya di daerah pesisir, melakukan
  4.  penelitian nasional untuk mengkaji potensi dan peningkatan penyerapan emisi CO2 dari sektor kelautan, Bimbingan dan pemahaman kepada nelayan dan masyarakat pesisir pada umumnya tentang sistem peringatan dini, Pemasangan alat pemecah ombak
  5.  Infrastruktur antara lain ; pembuatan sistem drainase dan sumur resapan dan atau tampungan air di bawah badan jalan, pembuatan jalan-jalan untuk pejalan kaki dan sepeda serta penanaman jalan dengan tanaman peneduh, membangun sistem rumah susun.
  6. Kesehatan antara lain ; penyuluhan kesehatan, dan perbaikan sanitasi lingkungan untuk seluruh masyarakat,  melakukan penelitian untuk mengidentifikasi jenis-jenis penyakit yang bisa ditimbulkan sebagai dampak perubahan iklim, pengendalian vektor penular penyakit
  7. Kehutanan dan Keanekaragaman Hayati antara lain ; inventarisasi keanekaragaman hayati di Indonesia, usaha perlindunganm terhadap ekosistem
  8. Lintas Sektor antara lain ;  peningkatan kapasitas institusi penyedia data dan informasi cuaca, pemantauan perubahan temperatur, kenaikan muka air laut, erosi air laut, tinggi gelombang dan kondisi-kondisi iklim ekstrim., menyusun peta daerah rawan bencana, penetapan strategi nasional adaptasi terhadap perubahan iklim.

Melalui Konferensi Perubahan Iklim tanggal 7-18 Desember tahun 2009 di Kopenhagen Denmark, Indonesia mengintrodusir Program sukarela penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 26 % hingga tahun 2020. Program tersebut akan menurunkan 0,7 miliar ton CO2 dengan kebutuhan dana diperkirakan Rp 83,3 triliun selama lima tahun. Penurunan emisi ditempuh oleh 7 sektor yaitu sektor kehutanan, pertanian, transportasi, energi, proses industri, limbah/persampahan, dan lahan gambut. Target penurunan emisi sektor kehutanan adalah yang tertinggi yaitu 13%, disusul oleh sektor lahan gambut 9,5%. Program sektor kehitanan dan lahan gambut meliputi penanaman pohon, dan pencegahan serta pengendalian penggundulan hutan.

 

4.  Produksi Bersih

Produksi Bersih adalah strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif, terpadu dan diterapkan secara terus-menerus pada setiap kegiatan mulai dari hulu ke hilir yang terkait dengan proses produksi, produk dan jasa untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya alam, mencegah terjadinya pencemaran lingkungan dan mengurangi terbentuknya limbah pada sumbernya sehingga dapat meminimisasi resiko terhadap kesehatan dan keselamatan manusia serta kerusakan lingkungan (Sumber: Kebijakan Nasional Produksi Bersih, KLH 2003).

Dengan menggunakan terminologi definisi tersebut di atas, maka diperlukan penerapan konkrit dengan prinsip-prinsip adalah sebagai berikut

•          Penanganan di lakukan di lokasi pabrik

•          Perubahan bentuk limbah menjadi limbah kurang berbahaya

•          Pengurangan volume limbah

•          Resiko dari residu sisa limbah kecil

•          Penanganan terpadu

•          Aspek tindak pencegahan bukan penyimpanan

Oleh sebab itu penerapan produksi bersih diperlukan

1.       Motivasi

Melakukan perbaikan terus menerus adalah prilaku yang perlu dimiliki oleh pekerja didukung oleh pemilik usaha. Penerapan produksi bersih (PB) tidak dirasakan sebagai beban, namun sebagai suatu kebutuhan.

2.       Komitmen

Adanya komitmen yang sungguh-sungguh pemilik usaha dalam mensukseskan suatu perubahan yang disepakati. Sense of belonging (rasa memiliki) pekerja terhadap tempat usaha/perusahaan membantu menumbuhkan komitmen dalam melakukan perbaikan.

3.       Team work, pemilik usaha dan pekerja

Kebersamaan antara pemilik usaha dan pekerja sangat diperlukan dalam menerapkan suatu perubahan. Rasa kebersamaan dan komunikasi yang intensif antara kedua belah pihak akan memudahkan dalam penyampaian masukan dan kritik terhadap perubahan, sehingga bisa diambil tindakan yang lebih tepat (win-win solution). Tentunya, hasil dari penerapan produksi bersih (PB) tidak hanya dinikmati oleh pemilik usaha, namun juga pekerja dan masyarakat, baik dari segi finansial, lingkungan, dan organisasional.

4.       Kebiasaan (habbit)

Perubahan-perubahan yang telah disepakati sebelumnya, perlu dijadikan suatu kebiasaan (habbit) bagi pekerja. Pemilik usaha perlu melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap penerapan produksi bersih (PB) secara berkala untuk menjamin pekerja melakukan perubahan itu sebagai suatu kebiasaan.

UNEP telah membuat alur atau siklus produksi bersih yang dapat menjadi acuan bagi industri besar menengah kecil maupun konsultan dalam pelaksanaannya

Langkah awal dalam melakukan analisis sebelum menerapkan konsep produksi bersih adalah mengetahui tentang non product output (NPO). NPO didefinisikan sebagai seluruh materi, energi, dan air yang digunakan dalam proses produksi namun tidak terkandung dalam produk akhir. Dengan definisi tersebut maka bentuk NPO dapat diidentifikasi antara lain sebagai berikut :

1.       Bahan baku yang kurang berkualitas

2.       Barang jadi yang ditolak, diluar spesifikasi produk (semua tipe)

3.       Pemrosesan kembali (reprocessing)

4.       Limbah padat (beracun, tidak beracun)

5.       Limbah cair (jumlah dari kontaminan, keseluruhan air yang tidak terkandung dalam produk final)

6.       Energi (tidak terkandung dalam produk akhir, seperti uap, listrik, oli, diesel, dll)

7.       Emisi (termasuk kebisingan dan bau)

8.       Kehilangan dalam penyimpanan

9.       Kerugian pada saat penanganan dan transportasi (internal,maupun eksternal)

10.   Pengemasan barang

11.   Klaim pelanggan dan trade returns

12.   Kerugian karena kurangnya perawatan

13.   Kerugian karena permasalahan kesehatan dan lingkungan

  1. Referensi

1.       ————————,  Rencana Aksi Nasional Dalam Menghadapi Perubahan Iklim, Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Republik Indonesia Tahun 2007.

2.       ————————, International Federation of Accountants IFAC, 1998: Environmental Management in Organizations. The Role of Management Accounting. Study 6. New York,

3.       ————————, Study Of  Management Accounting 1980,  The Centre for Sustainability Management (CSM), University of Lueneburg, Germany’

4.       ————————, Environmental Management Accounting 2003, Society for Environmental Protection (ASEP)  Bangkok, Thailand.

Penerapan Produksi Bersih di Industri Tahu

Penerapan  Produksi Bersih di Industri Tahu

 

  1. A.    Produksi Bersih

Produksi Bersih adalah strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif, terpadu dan diterapkan secara terus-menerus pada setiap kegiatan mulai dari hulu ke hilir yang terkait dengan proses produksi, produk dan jasa untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya alam, mencegah terjadinya pencemaran lingkungan dan mengurangi terbentuknya limbah pada sumbernya sehingga dapat meminimisasi resiko terhadap kesehatan dan keselamatan manusia serta kerusakan lingkungan (Sumber: Kebijakan Nasional Produksi Bersih, KLH 2003).

Dengan menggunakan terminologi definisi tersebut di atas, maka diperlukan penerapan konkrit dengan prinsip-prinsip adalah sebagai berikut

•          Penanganan di lakukan di lokasi pabrik

•          Perubahan bentuk limbah menjadi limbah kurang berbahaya

•          Pengurangan volume limbah

•          Resiko dari residu sisa limbah kecil

•          Penanganan terpadu

•          Aspek tindak pencegahan bukan penyimpanan

 

Oleh sebab itu penerapan produksi bersih diperlukan

1.      Motivasi

Melakukan perbaikan terus menerus adalah prilaku yang perlu dimiliki oleh pekerja didukung oleh pemilik usaha. Penerapan produksi bersih (PB) tidak dirasakan sebagai beban, namun sebagai suatu kebutuhan.

2.      Komitmen

Adanya komitmen yang sungguh-sungguh pemilik usaha dalam mensukseskan suatu perubahan yang disepakati. Sense of belonging (rasa memiliki) pekerja terhadap tempat usaha/perusahaan membantu menumbuhkan komitmen dalam melakukan perbaikan.

3.      Team work, pemilik usaha dan pekerja

Kebersamaan antara pemilik usaha dan pekerja sangat diperlukan dalam menerapkan suatu perubahan. Rasa kebersamaan dan komunikasi yang intensif antara kedua belah pihak akan memudahkan dalam penyampaian masukan dan kritik terhadap perubahan, sehingga bisa diambil tindakan yang lebih tepat (win-win solution). Tentunya, hasil dari penerapan produksi bersih (PB) tidak hanya dinikmati oleh pemilik usaha, namun juga pekerja dan masyarakat, baik dari segi finansial, lingkungan, dan organisasional.

4.      Kebiasaan (habbit)

Perubahan-perubahan yang telah disepakati sebelumnya, perlu dijadikan suatu kebiasaan (habbit) bagi pekerja. Pemilik usaha perlu melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap penerapan produksi bersih (PB) secara berkala untuk menjamin pekerja melakukan perubahan itu sebagai suatu kebiasaan.

UNEP telah membuat alur atau siklus produksi bersih yang dapat menjadi acuan bagi industri besar menengah kecil maupun konsultan dalam pelaksanaannya.

 

Langkah awal dalam melakukan analisis sebelum menerapkan konsep produksi bersih adalah mengetahui tentang non product output (NPO). NPO didefinisikan sebagai seluruh materi, energi, dan air yang digunakan dalam proses produksi namun tidak terkandung dalam produk akhir. Dengan definisi tersebut maka bentuk NPO dapat diidentifikasi antara lain sebagai berikut :

1.      Bahan baku yang kurang berkualitas

2.      Barang jadi yang ditolak, diluar spesifikasi produk (semua tipe)

3.      Pemrosesan kembali (reprocessing)

4.      Limbah padat (beracun, tidak beracun)

5.      Limbah cair (jumlah dari kontaminan, keseluruhan air yang tidak terkandung dalam produk final)

6.      Energi (tidak terkandung dalam produk akhir, seperti uap, listrik, oli, diesel, dll)

7.      Emisi (termasuk kebisingan dan bau)

8.      Kehilangan dalam penyimpanan

9.      Kerugian pada saat penanganan dan transportasi (internal,maupun eksternal)

10.  Pengemasan barang

11.  Klaim pelanggan dan trade returns

12.  Kerugian karena kurangnya perawatan

13.  Kerugian karena permasalahan kesehatan dan lingkungan

 

PENERAPAN TEKNOLOGI PRODUKSI BERSIH DI RUMAH PEMOTONGAN HEWAN CAKUNG

LATAR BELAKANG.

Pada saat ini metode Teknologi Produksi Bersih sedang diupayakan untuk dapat diterapankan ke industri-industri, terutama untuk negara-negara yang sedang berkembang yang mana harus meningkatkan peraturan – peraturan di bidang lingkungan.

Penerapan Teknologi Produksi Bersih dilakukan harus seawal mungkin pada  tahapan produksi guna mencegah investasi yang mahal dan tidak produktifnya sarana pengendalian pencemaran hilir (end of pipe). Produksi bersih merupakan alat untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing industri, terminologi Teknologi Produksi Bersih atau Cleaner Production untuk sebagian industri masih merupakan hal yang baru, akan tetapi subtansinya sendiri merupakan sesuatu yang sudah dikenal bahkan sudah sering diterapkan. Penerapan produksi bersih ini telah membuktikan bahwa teknik ini mampu meningkatkan dua faktor kunci dalam sektor industri yaitu efisiensi dan daya saing. Selain keuntungan nyata tersebut, penerapan produksi bersih di industri akan meningkatkan citra perusahaan dan kemudahan untuk memasuki pasar internasional yang memiliki standar lingkungan yang sangat ketat seperti masyarakat Eropa dan wilayah Amerika Utara.

Secara definisi produksi bersih adalah penerapan strategi lingkungan yang berkesinambungan, terintegrasi dan bersifat preventif terhadap proses, produk dan pelayanan untuk meningkatkan efisiensi. Misalnya untuk proses, yang meliputi konservasi bahan baku dan energi, mengurangi bahan baku berbahaya, mengurangi kuantitas dan kualitas emisi dan limbah sebelum meninggalkan proses.

Penerapan produksi bersih  yang disebut dengan up the pipe di industri lebih difokuskan pada usaha pencegahan terbentuknya limbah sebagai hasil proses yang berlangsung dalam industri. Limbah yang dihasilkan oleh industri merupakan salah satu indicator adanya inefisiensi, karena itu upaya pencegahan harus dilakukan mulai dari awal. Penerapan produksi bersih dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain :pengurangan pada sumber limbah (source reduction), pengurangan terjadinya limbah (waste reduction), pengurangan terjadinya limbah (waste reduction) dan pemanfaatan limbah yang terbentuk melalui daur ulang (on-site dan off-site) atau pendayagunaan .     Rumah Potong Hewan (RPH) Cakung adalah RPH resmi dibawah koordinasi Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang dikelola oleh PD. Dharma Jaya sejak tahun 1983 dan merupakan pusat RPH di DKI Jakarta. Di RPH Cakung ada tiga unit kegiatan yaitu :

Unit Pemotongan Hewan, Unit Pasar Ternak dan Unit industri & Pergudangan.

Kegiatan di Unit Pasar Ternak merupakan kegiatan jual beli hewan sapi dimana surat-suratnya diperiksa terlebih dahulu dan dilakukan pula pemerikasaan kesehatan hewan ternak. Setelah melalui pemeriksaan, ternak kemudian diistirahatkan sambil menunggu transaksi pembelian. Ternak akan dipotong setelah ada persetujuan antara penjual dan pembeli.

Pada kegiatan di  unit pemotongan hewan, pemotongannya dilakukan pada malam hari yaitu pukul 22.00 s.d pukul 05.00 WIB dengan kapasitas pemotongan 175 – 250 ekor per hari. Sistem pemotongan dilakukan  secara tradisional dilakukan dengan cara hewan langsung dipotong dan diikuti proses yang lain. Sedangkan persediaan hewan dikandang sebelum dipotong berkisar antara dua kali lipat yaitu 700 – 400 ekor per hari. Limbah yang dihasilkan dalam kegiatan sehari-hari sebanyak 310 m3 berupa limbah cair yang berasal dari kegiatan diarea kandang, ruang pemotongan hewan dan tempat pengurangan air isi rumen. Limbah padat yang dihasil oleh kegiatan RPH Cakung sebanyak 51 ton per hari yang berasal dari isi rumen, sisa pakan berupa rumput dan kotoran ternak di kandang.

Besarnya potensi limbah di RPH Cakung maka dilakukan  program pendekatan dengan menggunakan Teknologi Produksi Bersih untuk mengantisipasi penanggulangan limbah yang dikeluarkan oleh RPH Cakung.

Gambar 1. Sumber limbah padat dan cair di RPH Cakung.

 PEMILIHAN PENERAPAN TEKNOLOGI.

Pengelolaan limbah dengan pendekatan produksi bersih di industri menunjukkan dengan jelas adanya pergeseran posisi dari biaya ke penghematan, dari parsial ke terintegrasi, dari inefisien ke efisiensi dan dari teknologi pencemar ke Teknologi Produksi  Bersih. Teknologi Produksi Bersih sebagai salah satu alternatif solusi untuk mengantisipasi limbah di RPH Cakung dilakukan dengan pendekatan yang meliputi :

  •     Pengurangan limbah pada sumbernya
  •    Pendayagunaan  limbah dengan memanfaatkan hasil sampingnya.

 Pengurangan Limbah Pada Sumbernya.

            Secara umum produksi bersih yang dilakukan dengan pengurangan limbah pada sumbernya (source reduction) merupakan teknik pengurangan atau eliminasi limbah pada sumbernya yang dapat dilakukan melalui perubahan produk, perubahan material input, perubahan teknologi atau penerapan operasional yang baik.

Pengurangan limbah pada sumbernya yang dilakukan di RPH Cakung meliputi pengurangan terhadap limbah cair dan pengurangan terhadap limbah padat. Pengurangan limbacair   dilakukan dengan cara :

Pengurangan jumlah air pembersihan isi rumen dengan mengurangi kran-kran air yang dibuka dan melakukan pengurangan debit air untuk kran-kran yang dibuka serta tekanannya diperkecil.

Pengurangan jumlah air diarea kandang dengan cara menyalakan pompa pada waktu-waktu tertentu sehingga jumlah air yang digunakan berkurang.

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan selama bertahun-tahun maka jumlah limbah  cair  yang dikeluarkan berkurang cukup banyak yang semula kurang lebih 700 m3 perhari menjadi berkurang menjadi 310 m3. Penghematan yang luar biasa karena dapat menurunkan biaya produksi proses di RPH Cakung dan hal ini berpengaruh pula terhadap kapasitas  unit pengolah air limbah yang harus dibangun..

             Pengurangan limbah padat dilakukan dengan cara, pemberian sekat untuk tempat makanan ternak, sehingga rumput tidak terbuang dan jumlah padat dapat dikurangi menjadi 18 ton per hari dari 44 ton per hari.

 

Pendayagunaan limbah dengan memanfaatkan hasil sampingnya.

Pendayagunaan limbah adalah teknik pengelolaan limbah hasil proses industri dengan cara memanfaatkan hasil produk atau hasil sampingnya dalam berbagai bentuk/cara seperti limbah di gunakan sebagai bahan baku proses produksi lain menjadi suatu produk yang bermanfaat..

RPH Cakung dalam pendayagunaan limbah cair dan limbah padatnya menggunakan cara  biologi, karena diharapkan akan adanya pemanfaatan limbah cair yang dapat digunakan sebagai energi alternatif serta dihasilkannya kompos dari proses limbah padat. Gambar 1. memperlihatkan skema diagram alir dari limbah cair dan limbah padat.           

            Proses pendayagunaan limbah cair RPH Cakung dilakukan secara biologi   dengan sistim anaerobik menggunakan reaktor tipe Fixed Bed. Proses dimulai dimulai dengan pemisahan limbah padat yang kasar dengan menggunakan penyaring otomatis dengan tujuan untuk melindungi pompa dari padatan kasar yang mungkin akan menyumbat pompa. Limbah cair yang keluar dari saringan kasar dialirkan langsung menuju penampung  dan selanjutnya dialirkan ke atas saringan halus. Limbah cair yang keluar dari saringan dialirankan menuju tangki pencampuran dan penyimpanan, sedangkan limbah padat yang terbuang ditampung pada tempat penampungan.

Limbah cair dari tangki penampung dialirkan dengan pompa  ke dalam tangki pengendapan/sedimentasi. Endapan lumpur padatan organik dipompa ke penampung lumpur yang lebih padat Limbah cair yang sudah dipisahkan akan dialirkan  ke dalam dua unit Fixed Bed reaktor pengolahan limbah cair anaerobik melalui stasiun pompa. Fungsi pengolahan anaerobik ini adalah untuk mendegradasi bahan  organik di limbah cair dan merubah bahan organik yang terdegradasi menjadi biogas.

Lumpur limbah yang mengendap di bagian dasar penampung dipompa ke dalam penampung pemekat lumpur  dimana lumpur akan dikomposkan Tangki penampung diisi setiap hari dengan lumpur limbah yang dialirkan dengan jaringan pipa. Bilamana lumpur limbah tidak dapat dimanfaatkan untuk membuat kompos, maka lumpur yang dipadatkan dikembalikan ketempat pengeringan Lumpur, sedangkan air rembesan dialirkan kembali ke tangki air limbah didepan.

Gas yang dihasilkan oleh proses reaktor anaerobik disimpan dalam penampungan gas, pengisian gas akan dilakukan secara otomatis dengan sistim tekanan yang kemudian dialirkan untuk menjalankan generator dengan tenaga listrik kurang lebih 70 KW, diperkirakan akan dihasilkan gas sebanyak 757 m3 per hari dengan kandungan gas metana 76,5 %. Energi yang dihasilkan dalam bentuk biogas akan digunakan energi listrik untuk menjalankan keseluruhan proses pendayagunaan limbah cair dan limbah padat.

Gambar 2. Skema Diagram Alir dari Limbah Cair dan Limbah Padat.

anaerobik ini adalah untuk mendegradasi bahan  organik di limbah cair dan merubah bahan organik yang terdegradasi menjadi biogas.

Proses pendayagunaan limbah padat RPH Cakung dilakukan secara biologi dengan proses pengkomposan sistim open windraw secara aerobik. Limbah padat yang berasal dari penampung isi rumen dimasukkan kedalam screw press untuk dikurangi airnya, kemudian padatannya dibawa oleh wheel loader menuju tempat penampungan sementara, sedangkan limbah padat yang berasal dari kandang yang berupa kotoran dan sisa pakan dikumpulkan untuk dibawa ke tempat penampung sementara. Demikian pula dengan lumpur hasil proses limbah cair dibawa ketempat penampungan sementara dan didiamkan selama 7 hari, dari tempat penampungan sementara limbah padat tersebut dibawa ke ruang pengkomposan untuk diproses selama 35 hari dengan proses pembalikan  dua kali setiap minggumya. Hasil proses pengkomposan selama kurang lebih 42 hari kemudian dibawa ke tempat penyaringan untuk dilakukan proses penyaringan sehingga dihasilkan kompos halus dan kompos kasar yang kemudian dikemas sesuai ukuran kantong dan dibawa menuju gudang kompos. Kompos yang dihasil dari RPH Cakung diperkirakan akan menghasilkan sebanyak 7 ton per harinya dengan jumlah 70 % kompos halus  dan 30 % kompos kasar. Produk yang dihasilkan berupa kompos yang berkualitas tinggi dan bernilai ekonomis, karena mengandung unsur hara yang lebih tinggi dibandingkan dengan kompos sejenisnya, bebas bibit gulma, bebas dari bahan beracun dan berbahaya, tersedia dalam berbagai ukuran dan siap pakai.  

            Selama final acceptance test debit air limbah yang masuk kedalam system adalah berkisar rata-rata antara 59 – 140 m3/hari dengan kandungan COD terlarut rata-rata setelah beberapa tahap penyaringan dan pengendapan sebesar 1967 mg/l. Setelah proses degrasi dicapai COD terlarut effluent sebesar 583 mg/l. Efisiensi yang dicapai adalah 70 % dengan kandungan metan 80 % dan jumlah produksi gas rata-rata antara 220 – 250 m3/hari.

Gambar 3. Tangki pencampuran dan sedimentasi awal sebelum limbah cair dimasukkan ke  reaktor anaerobik.

Biogas yang dihasilkan dari Fixed Bed digester digunakan untuk memproduksi listrik dengan menggunakan generator. Mesin tersebut berjalan bersamaan dengan jaringan listrik PLN. Kapasitas maksimum adalah 45 kW, generator di atur menjadi 35 kW pada saat tes dilakukan. Mesin yang digunakan adalah Gas Otto Engine yang hanya dijalankan menggunakan biogas tanpa menggunakan bahan baker disel. Selama acceptance test dilaksanakan dengan perhitungan kapasitas maksimum dan produksi gas yang tinggi seperti data yang dapat dilihat sebagai berikut :

Kinerja digester

  • Jumlah air limbah          353 m3/hari
  • Produksi gas                220 m3/hari
  • Kadar metan                   75  %.
  • Jumlah sludge                   5 m3/hari.

Perhitungan produksi arus.

  • Daya                                        35  kW.
  • Pengambilan gas        15,6 m3/hari.
  • Produksi gas                220 m3/hari.
  • Produksi arus                459 Kwh/hari.

Neraca kebutuhan dan produksi  

  • Kebutuhan                    122 kWh.
  • Produksi                       495 kWh.
  • Surplus                         373 kWh

Keuntungan.

Kondisi sebenarnya di RPH Cakung memberikan keuntungan listrik yang dihasilkan dari biogas adalah

  • Harga listrik  Rp.578,-/kWh (Des 02).
  • Kelebihan arus 373 kWh.
  • Keuntungan Rp. 215.541/hari  atau Rp. 6.466.288,-/bulan atau Rp. 77.595.456,-/tahun.

 Pengolahan limbah padat dilakukan berdasarkan data potensial limbah padat di RPH Cakung dari November 2002 sampai Januari 2003, seperti yang dapat dilihat pada uraian dibawah ini.

Kondisi limbah padat dan kompos di RPH Cakung.

  • Jumlah ternak                785 ekor/hari.
  • Pemotongan                 200 – 300 ekor/hari.
  • Kotoran                                    12,1 ton/hari.
  • Isi rumen                         0,9 ton/hari.
  • Jumlah limbah               13,0 ton/hari.
  • Produksi kompos          744 ton/tahun.
  • Pendapatan                  Rp. 297.600.000,-  (Harga kompos Rp. 400,-/kg).

Pengolahan limbah padat menjadi kompos menggunakan sistem Open Windraw, pada minggu pertama dilakukan pengumpulan dan proses pembusukan pendahuluan di interim store . Setelah 6 (enam) sampai 7 (tujuh) minggu dalam proses pengomposan dengan penambahan sludge dari proses pengolahan limbah cair, kompos dapat dianggap sudah matang. Hasil kompos yang telah matang kemudian disaring dengan saringan 10, 15 dan 25 mm. Selama proses pengomposan dilakukan pembalikan 2(dua) kali dalam semimggu, selain itu temperature akan naik mencapai 60 oC dan waktu tinggal temperature yang agak lama akan menginaktifkan bakteri pathogen, parasit dan mematikan bibit rumput. Hasil produksi pupuk dari pengolahanlimbah padat adalah 744 ton/tahun. Adapun karakteristik kompos yang dihasilkan dapat dilihat pada uraian dibawah ini.

Karakteristik kompos RPH Cakung.

  • N total              24,8 g/kg b.k.
  • NH4-N                 2,4 g/kg b.k.
  • C/N                    11
  • P total               14,4 g/kg b.k
  • K                       38,6 g/kg  b.k
  • Ca                    22,0 g/kg b.k.
  • Mg                   10,7 g/kg b.k.
  • pH                    8,2
  • Garam              2,1 g/L.

Catatan : b.k : berat kering.

      Aplikasi penerapan Teknologi Produksi Bersih telah dilakukan di RPH Cakung. Metode aplikasinya adalah mereduksi limbah dari sumbernya dan pendayagunaan limbah dengan memanfaatkan hasil sampingnya. Hasil aplikasi penerapan Teknologi produksi bersih, dapat disimpulkan sebagai berikut :

1.     Penerapan Teknologi Produksi Bersih di RPH Cakung memberikan dampak positif untuk pencegahan pencemaran lingkungan dan hal tersebut membuat dana pengeluaran menjadi dana pemasukkan atau yang dihemat.

2.     Pengurangan limbah pada sumbernya menunjukkan konsumsi air yang lebih efisien  kurang lebih 400 m3/hari dan ada pengurangan limbah padat 24 ton/hari.

3.     Pendayagunaan limbah dengan memanfaatkan hasil sampingnya memberikan nilai tambah dengan menghemat listrik Rp. 77.595.456,-/tahun dan mendatangkan penghasilan sebesar Rp. 297.600.000,-/tahun.

 

SUMBER BACAAN.

1.……… , National Cleaner Production Centres Programme, UNIDO, Vienna 1997.

2. Feasibility Study On A Full Scale System For Treatment Of Liquid and Solid Slaughterhouse Wastes.

3. Weiland . P. Development of Anaerobic Filters for Treatment of High Strength Agro Industrial Waste Waters. Bio Process Engineering 2 Springer-Verlag. 1987.                                                                                                                           

 

AUDIT PRODUKSI BERSIH UNTUK PENGHEMATAN ENERGI DAN BIAYA


Kegiatan AUDIT PRODUKSI BERSIH UNTUK PENGHEMATAN ENERGI DAN BIAYA ini merupakan kelanjutan sosialisasi dari Proyek Geriap yang merupakan proyek Lingkungan Internasional dalam bidang Perubahan Iklim yang bekerja sama antara UNEP (United Nation Environment Program), SIDA (Sweden International Development Agency) dan perwakilan dari 9 (sembilan) negara dengan 40 (empat puluh) industri. Untuk lingkup Indonesia dilaksanakan olen Asdep Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dengan PTL – BPPT) dan 6 (enam) industri. Program ini telah berjalan sejak tahun 2003 dan telah dilakukan Peluncuran Internasional tentang “Metodologi/ Pedoman Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri” di Bangkok pada tanggal 18-20 Januari 2006. Peluncuran yang sama  dilakukan pula di 9 (sembilan) negara peserta dimana untuk Indonesia telah diselenggarakan pada tanggal 7-10 Februari 2006.

Masalah kelangkaan energi di Indonesia telah menjadi isu besar yang perlu ditindak lanjuti. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah usaha penghematan energi. Upaya penghematan energi dapat dilaksanakan dengan menerapkan Metodologi Pedoman Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca di Industri melalui Produksi Bersih

METODE PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA

Pada program ini, penurunan emisi gas rumah kaca dilakukan dengan cara penerapan produksi bersih, yaitu menurunkan limbah yang keluar dari industri, baik cair, padat dan gas melalui :

A. Melalui Perbaikan Proses Produksi, dilakukan dengan:

§  Peningkatan kinerja peralatan industri dengan cara perbaikan, modifikasi maupun penggantian peralatan.

§  Peningkatan efisiensi dan kinerja peralatan yang menggunakan energi listrik seperti antara lain: motor listrik, kompresor, fan, dilakukan dengan memaksimalkan beban kerja peralatan, menyesuaikan alat yang ada dengan beban yang dibutuhkan pabrik, memperbaiki peralatan yang tidak efisien dan penggantian alat.

§  Sedangkan dalam melakukan perubahan terhadap proses produksi, dilakukan dengan mengganti alat proses yang lebih efisien, merubah kondisi operasi, mengganti bahan baku.

§  Juga dilakukan pemanfaatan kembali limbah yang dihasilkan seperti daur ulang bahan baku, air, kondensat panas, limbah gas buang panas, dll.

§  Pada tahap ini lebih banyak diterapkan opsi-opsi dengan investasi rendah atau tanpa investasi.

B. Melalui Manajemen Produksi dilakukan dengan :

  • Melaksanakan program Good Housekeeping, antara lain: perbaikan kebocoran steam, air, bahan baku, bahan bakar serta perbaikan tata letak peralatan.
  • Melalui Good Housekeeping akan menurunkan emisi gas CO2 atau gas rumah kaca dari industri-industri di Asia Pasifik.
  •  Melalui Program Produksi Bersih (Cleaner Production) di industri yang secara langsung akan menurunkan konsumsi bahan baku industri, air, steam, udara tekan dan limbah serta secara tidak langsung akan menurunkan konsumsi bahan bakar dan emisi gas CO2 (Gas rumah Kaca). Program ini juga dikenal dengan nama proyek CP-EE (Cleaner Production – Energy Efficiency).

TUJUAN AUDIT.

Memperkenalkan dan melakukan Metodologi Penerapan Produksi Bersih & Efisiensi Energi (CP-EE) pada perusahaan-perusahaan terutama untuk penghematan energi dan biaya. Selanjutnya diharapkan dapat dilaksanakannya audit Produksi bersih untuk energi dan mengembangkan metodologi ini pada sistem proses produksi secara mandiri, sehingga ada penghematan dan ada manfaat secara finansial bagi perusahaan.

SASARAN.

Dapat menurunkan pemakaian energi, bahan baku dan produksi limbah serta emisi gas secara nasional .

METODOLOGI

Metodologi ini didasarkan pada:

  • Strategi Produksi bersih (PB): mencegah timbulnya limbah, pendekatan sistem matematik, terintegrasi kedalam proses bisnis dan bertujuan perbaikan berkelanjutan.
  • Beberapa metodologi yang sudah ada dan audit energi.
  • Pengalaman praktek nyata dari kajian energi yang telah dilakukan sebagai bagian dari proyek GERIAP pada lebih 40 perusahaan industri di Asia.

 TAHAPAN PELAKSANAAN

Perusahaan dapat memperbaiki efisiensi energ mereka melalui Pendekatan 6 tahap Produksi Bersih, antara lain : 1). Perencanaan dan organisasi, 2). pengkajian, 3). Identifikasi Opsi-opsi,

4). Analisis Kelayakan Opsi-opsi, 5). Penerapan dan pemantauan Opsi-opsi 6). Perbaikan Berkelanjutan.

 AUDITOR

Auditor adalah anggauta Kelompok Produksi Bersih, Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan (PTL), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang telah mengikuti program Greenhouse Gas Emission Reduction from Industry in Asia Pacific (GERIAP) yang diselenggarakan oleh United Nations Environment Program (UNEP) untuk beberapa industri seperti baja, pupuk, kertas dan pulp serta semen.

WAKTU DAN PELAKSANAAN

Audit dilaksanakan selama 2 bulan termasuk observasi ke lapangan sekaligus melakukan studi kasus untuk beberapa opsi.serta  penyampaian penyerahan laporan hingga selesai selesai.

METODA PELATIHAN MENCAKUP.

1.           Evaluasi awal.

2.           Teori peralatan dan sistem industri

3.           Penyelesaian contoh kasus

4.           Observasi ke industri

5.           Penyelesaian kasus.

6.           Presentasi dari peserta.

7.           Evaluasi akhir.

KUALIFIKASI PESERTA

Peserta minimal berjumlah 30 orang, dapat berasal dari industri, universitas, konsultan dan instansi pemerintah.

BIAYA PELATIHAN

Biaya penyelenggaraan pelatihan ini bergantung pada lokasi dan lama pelaksanaannya. Jumlah biaya dibicarakan lebih lanjut.

Kelompok Produksi Bersih

Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Telp 021 316 9715

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.